Sebelum para peneliti menemukan adanya black hole, ternyata Al Quran telah mengungkap kejadiannya ratusan tahun yang lalu. Allah berfirman yang makna harfiahnya sebagai berikut, ‘Maka aku bersumpah dengan khunnas, yang berjalan lagi menyapu.’ (at-Takwir: 15-16)

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.””

"Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)" (Qs al Hijr :44). Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.

Seorang ibu yang disakiti oleh anaknya mengirimkan surat pada anaknya. Suatu kisah yang mengharukan , Ibu yang selalu menyayangi anaknya apapun yang dilakukan anaknya terhadapnya. Teladanilah kisah ini...

Blackhole Dalam Quran Muslimah Cantik Bermahkota Rasa Malu 7 Pintu Masuk Neraka Surat dari Ibu

Hadith

Dari Anas radhiallahu'anhu dari Nabi shollalllahu 'alahi wa sallam di dalam menceriterakan apa yang difirmankan oleh Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, di mana Allah berfirman: "Bila seseorang itu mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari". (Riwayat Bukhari).

Dari Ibnu `Abbas radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah shollalllahu 'alahi wa sallam bersabda: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya yaitu kesehatan dan kesempatan". (Riwayat Bukhari).



Kalimat ini kudapat pertama kali saat bertanya kepada istriku yang saat kutanya belum menjadi istriku. 

Cinta adalah 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Sungguh bagi sebagian orang , ini adalah kalimat yang mungkin aneh dan baru terdengar agak ganjil.

Tapi, bagiku keanehan yang ada bukan pada makna yang sungguh dalam dari kalimat itu, tapi yang menjadi pertanyaanku adalah mengapa istriku saat itu memilih jawaban itu ?

Aku berusaha mengingat-ingat Al Baqarah ayat 156.

Al-Baqarah (2)  No. Ayat : : 156

الَّذِينَ Ø¥ِذَا Ø£َصَابَتْÙ‡ُÙ… Ù…ُّصِيبَØ©ٌ Ù‚َالُواْ Ø¥ِÙ†َّا Ù„ِÙ„ّÙ‡ِ ÙˆَØ¥ِÙ†َّـا Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِ رَاجِعونَ 

Artinya : "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"

Aku pun lantas teringat oleh kisah "Khansa 'an Nakha'iyah" yang mendapatkan kabar bahwa keempat putranya gugur di jalan Allah dalam perang di al-Qadisiyyah. Saat itu langsung yang dilakukan nya adalah memuji Allah dan bersyukur kepada Allah atas baiknya rangkaian takdir yang diciptakan Allah atas pilihannya yang terbaik dan diberlakukannya Qadha. Semua diyakini atas dorongan keimanan dan ketaatan kepada Illahi Sang Pencipta, Allah Subhana wata'ala.
Apakah ia murka? tidak... karena ia tahu jika ia murka maka ia akan mendapat kerugian dunia akhirat.

Jika anda dikejutkan oleh kabar bahwa rumah anda terbakar, anak anda meninggal, atau harta anda habis ikut terbakar , apa yang kira-kira anda lakukan ?

Maka dari sinilah Allah menyuruh kita untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah, terimalah qadar Allah, sadarilah kenyataan yang ada,  dan carilah pahala atas perisitiwa itu. Sebab hanya itu yang ada di hadapanmu, tidak ada pilihan lain.  Ya, memang ada pilihan lain, tapi hina sekali dan agama peringatkan kita untuk menghindarinya. 

Pilihan itu adalah menyesali apa yang terjadi dan menggerutu , marah sejadi-jadinya. Tapi apa yang didapat dari seperti itu ? yang didapat hanyalah kemarahan dari Allah, kebencian dari sesama manusia, pahala sabar hilang, dosa semakin banyak. Lebih dari itu, bencana itu tidak akan pergi, derita tidak akan hilang, dan takdir anda yang sudah tidak seperti akan pernah bisa dibalik atau diubah.

Sesungguhnya "balsem" untuk menawarkan musibah dan obat untuk mengurangi tekanan hidup adalah ungkapan tulus kita kepada Allah :  "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"


Artinya : kita semua adalah milik Allah, makhlukNya dan berada dalam kekuasaanNya, maka kita akan kembali kepada Allah juga akhirnya.

Lalu apa hubungannya dengan cinta ?

Mari, akan kukutip jawaban dari istriku, saat kutanya mengapa engkau memilih jawaban itu ?

Istriku menjawab :

Cinta bagiku bisa menjadi 2 hal, bisa menjadi kekuatan dan bisa menjadi ujian.
Kekuatan yang berasal dari Allah adalah kekuatan tertinggi. Dan itu hanya bisa didapat jika kita selalu bersandar kepada Allah dan kuasaNya, diatas segala-galanya.
Bagiku , sebuah rumahtangga adalah ujian. Maka aku tidak bisa menjalaninya dengan baik, jika aku tidak melandaskan semuanya kepada Allah. Aku , dan kau berasal dari Allah. Semua berasal dari Allah, termasuk cinta.
Berat, susah payah, penderitaan, tangisan, bahkan semuanya duka menurutku adalah ujian cinta dari Allah. Apakah dengan adanya kesusahan itu akan mengubah cintaku kepada Allah ? Membuatku tetap bersyukur dan beribadah atau malah menjadikanku lalai kepadaNya ?
Maka , yang kumau, rumah tangga bersamamu adalah karena Cinta Allah kepada kita.

Tanpa terasa air mata ku meleleh...

Ya Allah, aku juga ingin cinta Allah menjadi landasan hati, hidup dan rumahtanggaku.

Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah....
http://www.facebook.com/pages/Kembang-Anggrek/197674079227


Dari : Buku “Noktah Hitam Senandung Setan” Penerit Darul Haq Halaman 191-200, Terjemahan dari Kitab “Kasyful Ghitha” Karya Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah-.

Pecandu musik dan nyanyian itu berargumentasi dengan firman Allah :
“Dan pada hari terjadinya Kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (Surga) bergembira.” (Ar-Ruum: 14-15)
Di dalam kitab Tafsir disebutkan bahwa maksud kalimat ‘tuhbaruun’ adalah mendengar nyanyian. Sekiranya nyanyian itu haram niscaya tidak akan menjadi kenikmatan Surga yang utama.

Ahli Al-Qur’an menjawab: “Seandainya kalian berpegang kepada ayat tersebut untuk membenarkan pendapat kalian itu niscaya akan tersamar dan dapat diterima oleh orang yang tidak memiliki bashirah dan ilmu. Namun Allah berkehendak menyingkap kedok kalian dan membungkam mulut kalian.

Tidak syak lagi bahwa sebagian Salaf (seperti Imam Waki dan Yahya bin Abi Katsir) menafsirkan kata ‘al-habrah’ di dalam ayat tersebut dengan mendengarkan nyanyian merdu bidadari Surga. Bahwasanya bidadari-bidadari Surga akan bernyanyi dengan suara yang belum pernah terdengar suara semerdu itu oleh para makhluk. Mereka berdendang: “Kami adalah bidadari yang kekal tidak akan mati. Kami adalah bidadari yang selalu bergembira dan tidak akan murung. Kami adalah bidadari yang selalu ridha dan tidak akan marah. Beruntunglah orang yang mendapatkan kami dan kami menjadi miliknya.”

Abu Nu’aim menyebutkan dalam kitab Shifatul Jannah sebuah riwayat dari Sa’id bin Abi Maryam dari Muhammad bin Ja’far bin Abi Katsir dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar ia berkata: “Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya para bidadari-bidadari yang merupakan istri penduduk Surga akan bernyanyi untuk suami mereka dengan suara yang sangat merdu yang belum pernah terdengar oleh seorangpun sebelumnya. Di antara nyanyian yang mereka senandungkan adalah: `Kami adalah bidadari-bidadari yang balk-balk lagi cantikcantik, kami adalah para istri hamba-hamba yang mulia, yang melihat dengan pandangan yang menyejukkan.’

Di antara nyanyian mereka adalah:
‘Kami adalah bidadari yang kekal tidak akan mati,
kami adalah bidadari yang terpelihara tidak pernah takut,
kami adalah bidadari yang selalu menyertai tidak akan pergi.’



Sa’id bin Abu Maryam tersendiri dalam periwayatan hadits ini.

Diriwayatkan juga dari jalur Al-Walid bin Abi Tsaur dari Sa’ad Ath-Thaa’i dari Abdurrahman bin Saabith dari Ibnu Abi Aufa ia berkata: Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya bidadari-bidadari Surga berkumpul sekali setiap pekan. Mereka bernyanyi dengan suara yang merdu yang belum pernah didengar oleh siapapun sebelumnya suara semerdu itu. Mereka menyenandungkan: “Kami adalah bidadari yang kekal tidak akan fana, kami adalah bidadari yang selalu gembira tidak akan murung, kami adalah bidadari yang selalu ridha tidak akan marah, kami adalah bidadari yang selalu menyertai tidak akan pergi,beruntunglah orang yang mendapatkan kami dan kami menjadi miliknya. “[Shifatul Jannah (378), bagian awal hadits ini dikeluarkan oleh AI-Baihaqi dalam kitab Al-Ba’ts wan Nusyur (414).]

Diriwayatkan dari jalur lbnu Abi Fudeik dari Ibnu Abi Dzi’b dari ‘Aun Ibnu AI-Khaththab dari seorang putra Anas dari Anas bin Malik ia berkata: “Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya bidadari-bidadari Surga akan bernyanyi di Surga: `Kami adalah bidadari-bidadari yang cantik jelita, diciptakan untuk suami-suami yang mulia.’”

Diriwayatkan dari jalur Yazid bin Waqid dari seorang lelaki dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pohon yang pangkalnya terbuat dari emas dan tangkainya dari permata Zabarjad dan Lu’lu’. Bila dihembus angin akan mengeluarkan suara yang sangat merdu yang belum pernah di dengar oleh seorangpun suara yang lebih menyedapkan telinga daripadanya.“

Diriwayatkan dari jalur Khalid bin Ma’dan dari Abu Umamah dari Rasulullah beliau bersabda:
“Apabila seorang hamba masuk ke dalam Surga maka akan duduk di dekat kepala dan dua kakinya dua bidadari yang akan bernyanyi untuknya dengan suara yang paling merdu yang pernah didengar oleh bangsa jin dan manusia, namun bukan suara seruling setan.“

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dari hadits Sulaiman bin Abi Karimah dari Hisyam bin Hassan dari Al-Hasan dari Ummu Salama  ia berkata: ‘Saya bertanya kepada Rasulullah manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari Surga? Be]iau menjawab: “Wanita dunia lebih utama daripada bidadari Surga, sebagaimana keutamaan bagian Iuar baju daripada bagian dalamnya. Saya berkata: “Ya Rasulullah, mengapa demikian?” Rasulullah menjawab:
“Karena shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah akan menghiasi wajah mereka dengan cahaya, tubuh mereka dengan sutera, kulit mereka putih mulus, pakaian mereka berwarna hijau, perhiasan mereka kuning mengkilap. wadah dupa mereka terbuat dari permata dan sisir mereka terbuat dari emas. Mereka akan bernvanyi: “Kami adalah bidadari yang kekal tidak akan mati, kami adalah bidadari yang selalu riang gembira tidak akan bersedih, kami adalah bidadari yang selalu menyertai tidak akan beranjak, kami adalah bidadari yang selalu ridha tidak akan marah. Beruntunglah orang yang memiliki kami dan kami menjadi miliknya.”

Dikatakan kepada kalian: Haruskah sesuatu yang dijadikan oleh Allah sebagai nikmat di Surga bagi para hamba-hambaNya di Akhirat menjadi mubah hukumnya bagi kalian di dunia?

Jika kalian katakan tidak harus, berarti batallah argumentasi kalian tadi. Jika kalian katakan harus! Maka kami katakan kepada kalian bahwa Allah memberi nikmat kepada penduduk Surga di Akhirat berupa pakaian sutera dan gelang-gelang emas, maka konsekuensi ucapan kalian tadi adalah hal tersebut boleh kalian pakai di dunia, padahal itu bertentangan dengan dienul Islam dan perintah Allah. Demikian pula Allah memberi mereka nikmat berupa khamar, maka menurut konsekuensi ucapan kalian khamar juga boleh diminum di dunia. Demikian pula di Surga nanti para penghuninya akan makan dan minum dengan menggunakan piring dan gelas dari emas dan perak. Dan Rasulullah juga telah menyatakan:
“Piring-piring emas itu bagi mereka (orang kafir) di dunia, dan bagi kita nanti di Akhirat.”[Bagian dari hadits dengan lafal: “Sesungguhnya piring-piring itu bagi mereka di dunia dan bagi kita di Akhirat.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari hadits Hudzaifah (5426, 5632, 5633, 5831 dan 5837), Muslim dalam Shahih nya (2067/404), Abu Daud (3723), At-Tirmidzi dalam Jami’nya (1878), ia berkata: Hadits ini hasan shahih.” An-Nasaa’i dalam Sunan-nya (5301) dan Ibnu Majah (3414).
]
Menurut konsekuensi ucapan kalian: “Sebagaimana piring emas itu bagi kaum muslimin di Akhirat, maka boleh juga digunakan di dunia. Padahal Rasulullah telah bersabda:
“Barangsiapa meminum khamar di dunia maka ia tidak akan meminumnya di Akhirat”Dan Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memakai pakaian sutera di dunia maka ia tidak akan memakainya di Akhirat.”[Diriwayatkan oleh AI-Bukhari dalam Shahih-nya (5834) dari hadits Umar bin Al-Khaththab, dan Muslim dalam Shahih-nya (2073) dari hadits Anas dan pada hadits no. 2074 dari hadits Abu Umamah, diriwayatkan juga oleh An-Nasaai dalam Sunannya (5305) dan Ibnu Majah juga dalam Sunan-nya (3588) dari hadits Umar 

Berkaitan dengan piring emas dan perak, Rasulullah bersabda:
“Piring piring emas itu bagi mereka (orang kafir) di dunia, dan bagi kita nanti di Akhirat. “

Rasulullah mengabarkan bahwa barangsiapa memakai barang-barang tersebut di dunia. berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain maka ia tidak akan memakainya di Akhirat. la tidak diperkenankan memakainya sementara penghuni Surga Iainnya dibolehkan, bila ia masuk Surga. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ayahnya (Abu Hatim)dari Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizaami dari Hasan bin Ali bin Hasan Al-Barrad dari Humeid AI-Kharrath dari Muhammad bin Ka’ab ia berkata: “Barangsiapa yang telah meminumnya di dunia maka ia tidak akan meminumnya lagi di Akhirat.” Saya katakan: “Bagaimana bila ia bertaubat lalu Allah memasukkannya ke dalam Surga? Bukankah Allah telah mengatakan:
“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. “ (Fushshilat: 31)
Abu Hatim berkata: “Allah menjadikan mereka lupa terhadapnya. Atau sabda Rasul itu merupakan ancaman baginya bahwa ia tidak masuk Surga. Sebab barang-barang tersebut hanya dipakai oleh penghuni Surga. Barangsiapa tidak memperolehnya di Akhirat berarti ia bukan termasuk penghuni Surga.”

ltulah dua bentuk penafsiran bagi hadits-hadits tersebut dari ulama Salaf.

Bila dikatakan: “Nyanyian yang menyedapkan yang telah dijanjikan di Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang menjauhkan pendengaran-nya dari nyanyian-nyanyian di dunia, sebagaimana hal-hal lainnya seperti pakaian sutera, khamar, penggunaan peralatan dari emas dan perak, tentunya lebih tepat dan benar daripada perkataan kalian bahwa hal-hal itu dibolehkan di dunia karena penghuni Surga boleh menggunakannya.”

Dalil-dalil yang kami bawakan tadi cukup jelas menyatakan hal itu. Di antaranya adalah atsar yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abid Dunya dari Daud bin Amru Adh-Dhabbi dari Abdullah bin Al-Mubarak dari Malik bin Anas dari Muhammad bin Al-Munkadiri, ia berkata: Pada Hari Kiamat nanti seorang penyeru akan berseru: “Manakah orang-orang yang di dunia dahulu menjauhkan diri dari permainan dan nyanyian setan? Tempatkanlah mereka di taman misk (kesturi). Kemudian Allah berkata kepada para Malaikat: “Perdengarkanlah kepada mereka pujian dan sanjunganKu, kabarkanlah kepada mereka bahwa tiada lagi ketakutan dan kesedihan atas mereka.”

Penukilan atsar ini telah disebutkan sebelumnya dari Mujahid sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Baththah.

“Dari milis tetangga, sebuah curahan hati seorang ibu yang baru saja kehilangan putri pertamanya. Seorang ibu yang tiada mengenal lelah untuk mengkampanyekan ASI sebagai makanan terbaik bagi buah hatinya.. Elona Melo T.A, saudariku.. Semoga kisah ini bisa mendapatkan ibrah/hikmah di dalamnya..”
Selasa, 17 Juli 2001, jam 10.10wib engkau hadir di tengah kehidupan
kami nak. Sempurnalah rasanya mama menjadi seorang wanita dengan
kelahiranmu.
Engkau kami beri nama Khonsaa’ Al Anshoriyah. Khonsaa’ adalah nama
seorang sahabat Rosul wanita yg merelakan ke3 anaknya mati syahid di
peperangan, hingga akhirnya beliaupun ikut syahid.
Al Anshoriyah, kami pilihkan menjadi nama belakangmu dg harapan engkau
termasuk ke dalam golongan orang-orang yg gemar menolong layaknya kaum
anshor.
Dari balita, engkau sudah menjadi tempat mamamu curhat, entah engkau
paham atau tidak setiap ada kegundahan engkau bantu meringankannya
dengan jalan mendengarkan nak. Itulah sebabnya engkau menjadi salah
satu Sahabat Terbaik mama. Kau tenangkan mama, kau hapus airmata mama
setiap mama menangis krn rindu dg alm opamu. Dengan lembut kau bisikan
di telinga mama “jangan sedih ma”..lalu engkaupun memeluk mama.
Sebagai anak pertama, engkau menjadi sekolah sekaligus guru bagi mama.
Bagaimana naluri keibuan mama terasah dg keberadaanmu. Engkau
mengajarkan pada mama bahwa kesabaran tidak berbatas, walau sebagai
manusia sering sabar itu hilang. Engkau ajarkan pada mama, bahwa kasih
sayang, kehangatan dan kejujuran akan berakhir dg ketiganya pula. Kau
ajarkan bahwa, ibu adalah guru pertama sekaligus terbaik bagi
anak-anaknya. Itu sebabnya papamu meminta mama untuk tetap di rumah
menemani engkau dan adik-adikmu. .
Ketika adik-adikmu lahir, di usia yg masih sangat muda, engkau berubah
menjadi sosok kakak yang begitu dewasa, banyak mengalah, walau kami
orangtuamu tahu hal itu berat engkau lakukan. Kami sering memberimu
tanggung jawab “titip ade-ademu ya mba” setiap mama dan papamu pergi,
walau di rumah ada yang lain. Kau tunaikan amanah kami dg memberi
laporan singkat jelas dan padat apa yg terjadi saat mereka ditinggal.
Apabila ada mainan atau bukumu yg dirusak oleh adikmu, yang kau lakukan
hanya menangis dan mengadu pada mama, dengan harapan mama akan
memperbaikinya. .itu sering kita bersama.
Engkau buat kami bangga dengan keistiqomahanmu untuk mengenakan jilbab
di usia 6 tahun, walau engkau hanya seorang diri yg melakukannya di
kelasmu. Kau butikan kecerdasanmu dg hasil IQmu yg sangat jauh di atas
rata-rata dan prestasimu sebagai juara kelas. Ternyata, kebanggaan ini
juga dirasakan oleh eyang mama dan eyang papa, oma dan bude pakde juga
om kamu nak. Mama sering tidak segan-segan berkata bahwa “mama banggamu
nak”.
Al Anshoriyah, engkau betul-betul anak yg gemar menolong. Terbukti dari
cerita guru-gurumu bahwa engkau tidak segan-segan menolong temanmu yg
kesulitan dalam belajar, walau resikonya ditegur oleh gurumu. Bahkan
suatu waktu, nilaimu dikurangi karena dengan ikhlasnya soal ujian
temanmu kau kerjakan dari awal hingga selesai. Ingat nak..betapa
marahnya mama ketika tahu kejadian itu, namun di sisi lain mama melihat
sikap rela berkorbanmu yg begitu tinggi.
Saat kita pindah, dari Jakarta ke Bandung, engkau terlihat sedih karena
harus meninggalkan sahabatmu, namun sekaligus gembira setelah
mendengarkan cerita mama bahwa kelak kamu akan mendapat teman-teman
baru dg bahasa yg tidak biasa, Bahasa Sunda. Ingat Khonsaa’ ketika
tanpa engkau sadari caramu dan adikmu berbicara mulai berubah dan
menjadi bahan becandaan sepupumu di jakarta…? Itu membuktikan betapa
dirimu mudah bergaul nak. Mama juga bangga padamu ketika seorang
walimurid menceritakan bahwa menurut anaknya, kamu adalah “the coolest
girl in the class” karena wawasanmu yg luas. Dari masalah gadget,
pelajaran, poppin (satu bentuk tarian ), music, buku-buku..begitu
banyak yg kau ketahui nak. Engkau memang canggih nak..!
Saat teman-teman seusiamu masih belum kenal dunia komputer dan online,
kamu sudah begitu akrab dengan keduanya. Niatmu punya Facebook dan
akrab dengan dunia online engkau ceritakan dalam rangka “jangan mau
jadi gaptek”. Engkau buat blog pribadi saat usiamu masih 7tahun.
Padahal, yg engkau lakukan hanya mengamati papamu yg sedang asyik dengan pekerjaannya.
Sering sekali engkau cerita ke mama hasil brosingmu ke beberapa web hanya untuk membedakan “akar tunggal dan akar serabut”.
Kau buktikan, bahwa dunia online seharusnya memang digunakan u hal-hal yang bermanfaat..
Sebagai mama, banyak sekali kesalahan yg mama perbuat padamu nak,
bahkan tidak terhitung..Kemaraha n yang kadang melampau batas,
ketidaksabaran yang sebenarnya masih sangat bisa ditahan.
Ketika mama menangis menyesal bila memarahimu dan adikmu, yang kau
ucapkan hanya “nggak apa-apa ma”. Ingat nak, ketika mama menyusui
adik-adikmu engkau berada di dekat mama sambil engkau bertanya “aku
dulu nyusu juga ngga ma”. Seketika itu juga mama tidak mampu menahan
tangis, sembari berucap “itu salah satu kebodohan mama nak, maafkan
mama krn mama tdk menyusuimu”. Mama ceritakan alasannya bahwa luka yg
ada tdk mampu mama tahan. Lagi-lagi engkau menghibur mama dg berucap
“nggak papa ma, yang penting sudah usaha”.

Salah satu kesalahan mama terbesar padamu ialah tanggal 13 Desember
2009. Hanya karena keletihan yang sebenarnya masih bisa mama tahan,
mama tidak menemanimu dan adikmu yg pagi itu semangat sekali ingin
berenang, dan memang itulah tujuan kita menginap di hotel. Mama lebih
milih berada di kamar hotel dan membiarkanmu beserta papa dan kedua
adikmu ke kolam renang yg ketika itu memang ramai. Mba Rahmi dan Mba
Siti, yang selama ini membantu mama mengurus rumah juga ikut menemani
kalian. Padahal engkaupun belum terlalu mahir berenang nak, mama tahu
ketakutanmu pada air yang kau coba hilangkan sedikit demi sedikit.
30 menit kemudian papamu kembali ke kamar hotel dan, tidak lama telpon pun berdering memberitahu bahwa engkau tenggelam… !!!
Bagai tersambar petir, mama dan papa langsung menjerit dan lari menuju
kolam, namun engkau sudah dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak
sadarkan diri.
Sekelebat terlintas rasa marah dan was-was silih berganti..
“Mana pool guard yang seharusnya menjaga kolam renang”..hanya itu kalimat yang mama ucapkan seraya berlari ke arah kolam.
Mama seorang guru renang nak, papamu mahir berenang. Mama bahkan sering
bercerita padamu kejadian-kejadian saat mama menolong beberapa orang
yang hampir tenggelam…
Tapi..
Dimana mama, saat anak mama tenggelam,
Mana guru renang yang mahir berenang 4 gaya, dengan murid tak terhitung jumlahnya..? ?.
Mana guru renang yg berkali-kali menolong orang yang bisa saja nyawanya melayang di kolam renang…??
Mana….??
Allohu akbar..dalam perjalanan menuju rumah sakit di kepala mama yang ada hanya rasa sesal..
Inikah teguran atas kesombonganku ya Alloh?”
Sebegitu sombongkah aku hingga Engkau mengujiku seberat ini?
Dan…hari itu Alloh menunjukkan kuasaNya..
Mama menemuimu di ruang UGD ketika engkau telah terbujur kaku nak.
Seketika itu dunia terasa gelap, aliran darah seakan terhenti..melihat
sesosok tubuh tertutup kain putih…
Ya Alloh..Ya Robbi..Ya Rohman..Ya Rohim, inilah saatnya Engkau ambil titipanmu yg pernah Kau tanamkan dalam rahimku.
Dunia seakan berhenti berputar..rasanya tidak percaya hingga mama liat
tanda lahir di lengan kirimu, bekas luka kecil cacar di hidungmu, tahi
lalat di telingamu dan sekujur badanmu yg mama hafal bentuknya satu
persatu karena kamu anak mama..
Mama segera memeluk jasadmu nak, tanpa berpikir lagi apakah engkau
dengar atau tidak, hanya kata maaf yg mampu mama ucapkan di telingamu.
Dada ini terasa sesak menahan sebuah beban yg terasa seperti sebuah
gunung yang sangat besar.
Sambil memandikan jenazahmu, mama bisikkan di telingamu bahwa, mama
buktikan kalau mama kuat menerima kepergianmu. Demi mengharap ridho
Alloh Azza Wajalla, mama tahan air mata dan rasa marah yang sebenarnya
lebih mudah bila diledakkan saat itu juga.
Demi meyakini akan syahidnya seseorang yang wafat karena tenggelam, mama tahan emosi mama nak..
Demi meyakini, bahwa engkau akan menjadi hijab api neraka bagi orang
tuamu yang kotor ini, mama tahan dorongan ingin menjerit
sekeras-kerasnya.
Engkau penuhi janjimu nak..
Al Anshoriyah, Engkau gemar menolong saat masih hidup. Dan, engkau tolong kami dengan kepergianmu.
Banyak sekali janji mama padamu nak, hadiah sepeda BMX bila engkau
juara kelas lagi, jalan-jalan ke dufan dan menaiki semua wahana krn
kini engkau sudah tinggi, latihan renang intensif selama liburan
nanti…, bermain hujan bertiga adikmu, menyambangi sahabat-sahabat dan
guru-gurumu di Jakarta..namun, semua itu tinggal janji…
Engkau tunaikan janjimu…tapi pada siapa mama tunaikan janji-janji mama nak..?
Cita-cita kami orang tuamu ingin merawat dan mendidikmu hingga dewasa,
digantikan dengan sebuah cita-cita mulia yg tak mampu kami ucapkan,
mengharapkan kita semua bisa bertemu maut dengan kesyahidan. Kau
tunaikan itu semua nak..
Maafkan mamamu nak, yang tidak berada di dekatmu saat-saat terakhir hidupmu.
Walau pedih, mama bersyukur karena telah dipercaya oleh Alloh menerima
amanah seorang gadis kecil yang sangat special di mata setiap orang
yang mengenalnya.
Janji mama terakhir kalinya padamu anakku, mama akan kuat melepasmu
walau berat. Mama akan merawat kedua adikmu, mama akan menjadi ibu yang
jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bantu mama agar kuat nak, walau air mata penyesalan, kesedihan, kerinduan ingin memelukmu tak mampu mama bendung.
Rasa sesal tidak menjadi ibu yang sempurna begitu hebatnya mama rasakan hingga saat ini.
Semoga Alloh Sang Ilahi Robbi, memaafkan semua kesalahan mama padamu.
Mama sangat mencintaimu anakku..
Mama sangat merindukanmu. .sahabatku. .
Mama bangga padamu..guruku. .
Mama akan kuat, demi janji mama padamu..syahidahku!
Selasa, 15 Desember 2009
elona melo binti tomela arief
mama bagi Khonsaa’-Zainab- Tholhah


M. Syamsi Ali
Senin malam lalu, bertepatan dengan hari peringatan kelahiran Dr. Martin
Luther, pejuang hak-hak kesetaraan antar ras di AS, dilangsungkan perhelatan
akbar di Lincoln Center kota New York. Sedikitnya sekitar 2000 penonton
menghadiri acara pertunjukan International Distinguished Concert of New York
(IDCNY) dengan tema “*The Armed for Peace*”.
Acara ini sendiri dikemas sebagai rangkaian memperingati hari kelahiran
Martin Luther sebagai simbol ‘*non violence*’ (anti kekerasan/perang).
Sedangkan acara dengan tema “*The Armed Force for Peace*” dimaksudkan
sebagai tandingan terhadap “the Armed Force for war”, yang akhir-akhir ini
mendominasi berbagai peristiwa dunia kita.
Saya sendiri hadir sebagai undangan tapi sekaligus diminta mengumandangkan
adzan di selah-selah ‘*concert for peace*’ malam itu. Tentu dengan sangat
senang hati saya hadir, apalagi dengan tiket gratis yang konon kabarnya
dijual hingga seratusan UD Dollar itu. Tapi lebih dari itu, bagi saya, yang
lebih menyenangkan lagi adalah kesempatan memperdengarkan sesuatu tentang Islam, walau itu hanya dengan gema adzan.
Bukan jalannya acara itu yang ingin saya ceritakan. Tapi sesuatu yang jauh
lebih menarik dari segalanya.
Ternyata, diam-diam gema adzan yang saya lantungkan malam itu menjadi
penyebab hidayah bagi seseorang. Dari dua ribuan hadirin itu, Allah memilih
salah seorang di antara mereka untuk dibimbing menuju ridhoNya lewat
kumandang adzan itu. Orang tersebut baru pagi ini, Rabu, datang ke Islamic
Center dan menyampaikan perasaannya di saat adzan dikumandangkan malam itu.
Saya baru tiba di Islamic Center ketika sekretaris menelpon ‘*ya sheikh, ada
seseorang ingin konsultasi*’. Normalnya saya tidak menerima tamu, kecuali
jika sangat penting, sebelum shalat Dhuhur. ‘*Can she wait until Dhuhr*?’,
tanya saya. ‘*She said, she is in a hurry*’, sekretaris menyempaikan setelah
menanyakan kepada yang bersangkutan. ‘*Let her come to my office*’, kataku.
‘*I am really sorry to bother you early, Imam*’ sapanya ketika memasuki
kantor. ‘*Oh not at all! I just came in and wanted to prepare my short
speech after the Noon prayer today. But it is fine, I think I am ok to meet
with. Thank you for the visit by the way*’, candaku.
Gadis itu nampak percaya diri. Tidak ada keraguan, dan terus memperlihatkan
wajah yang ramah. Mungkin itulah tipe wanita-wanita Amerika, apalagi yang
berpendidikan tinggi. ‘*Hi, what I can do for you today*?’, aku memulai.
‘Sambil menarik napas, dia melihat saya dan mengatakan ‘*I am sure you don’t
know me, but I know you*!’. Saya sedikit terkejut dengan pernyataan itu
karena seolah-olah kehadirannya adalah karena mengenal saya.
‘*Really*?’, kataku lagi. ‘*Had we ever met before*?’, tanyaku seperti nggak
sabaran. ‘*No, but I’ve seen you a few days ago*!’, katanya bersemangat. ‘*
Really*?’, tanyaku lagi. Saya sepertinya nggak percaya sebab memang tidak
ada di benak bahwa hanya dua hari sebelumnya saya tampil di Lincoln Center
untuk mengumandangkan adzan. ‘*Yes, 2 days ago at Lincoln Center*’,
jawabnya.
Barulah saya sadar akan acara penting dua hari sebelumnya itu. ‘*And so,
what I may be helpful to you today*?’, tanyaku. Dengan sedikit mimik yang
serius, namun dengan wajah yang ceria dia menceritakan bahwa sejak bebarapa
bulan terakhir ini dia sedang mendalami Islam. Menurutnya lagi, keinginan
mendalami Islam itu terdorong oleh kenyataan bahwa Islam semakin terekspos
sedemikian rupa di berbagai media massa. ‘*In the beginning, just wanted to
confirm all negative things that have been said about Islam. But the more I
learned about it, the more I interested in it*’, katanya serius.
Karena nampaknya dia sangat tergesa-gesa, saya langsung saja ke poin penting
‘*And so what did you find so far about it*?’, tanyaku memancing. ‘*To be
honest, I do believe that Islam is great. But still I have many questions in
my mine, and I don’t mean any offense*!’, tegasnya.
‘*Oh not at all Miss*!’, kataku. ‘*In fact, those questions might a path for
you to explore this religion even further*’, tegasku.
Gadis baya berambut pirang ini tersenyum sambil menunduk. Mungkin masih
merasa bersalah karena dalam benaknya masih ada beberapa pertanyaan tentang berbagai aspek agama ini. Barangkali karena tradisi agama lain, ketika
mempertanyakan dianggap meragukan atau merupakan indikasi kelemahan iman.
‘*You know, in our religion, inquiring answers to any possible doubtfulness
is highly encouraged. In fact, it is a way to the Truth*!’, tegasku sambil
memberikan contoh Ibrahim yang mempertanyakan bagaimana mungkin Allah akan
menghidupkan orang yang telah mati (kaefa tuhyil mauta).
‘*Really? It is amazing. You know, one of the many reasons why I am learning
Islam is, because I really wanted to know. I don’t want to follow something
blindly, even when my rationality rejects it*’, jelasnya.

‘*But don’t forget!’. Saya memotong pembicaraannya. ‘There are things that
our rationality may be not in the position to grasp. But certainly nothing
in Islam contradicts both our rationality and our human nature*’, jelasku.
Dia nampak agak bingung. Tapi kemudian saya lanjutkan ‘*when you count 1
plus 1 plus 1, according to our human rationality is 3. But if any one
insists to say it is 1, then it is contradictive to our rationality…’
jelasku. ‘But when you say God will bring us back to life after death, your
rationality may not be in the position to know the details, but it is not
contradictive to our minds. Why? For God, Who created us from nothing, will
more easier to bring us back, compare to the beginning of human creation*’,
jelasku sedikit berfilsafat.
Tak terasa waktu berjalan hampir sejam kami mengobrol. ‘*I am sorry to talk
that much. I know you are in a hurry*’, kataku sambil tersenyum. ‘*Oh no! I
am okay..but need to go back to my work*’, jawabnya.
‘*Where do you work, and what it is your name*?’, tanyaku. Dari awal kami
mengobrol, tyernyata lupa saling menanyakan nama. ‘*Hi, my name is Nicole
and I am an accountant working with an accounting firm in the City. And you
know these days are so hectic for us*’, jawabnya. Saya teringat kalau
hari-hari ini adalah waktu pengurusan tax bagi warga Amerika. Dan sudah
tentu dia sangat sibuk.
‘By the way, I hope our conversation has been interesting to you1’, kataku.
‘Certainly1’, jawabnya singkat tapi sambil kelihatan serius.
‘Sir, I feel….’, katanya terpotong. ‘What? What do you feel?’, tanyaku.
Sambil membalik posisi duduknya, sang gadis itu melihat saya dengan wajah
serius. ‘*I think, it is better fopr me to pursue my dream*!’, katanya lebih
serius. ‘*What dream*?’, tanyku. ‘*I want to be a Muslim now*!’, tegasnya. ‘
*And you know what? I came because the song you sung (adzan) at Lincoln
Center last Monday’. To be honest, after reading a lot about Islam, thinking
a lot about it, when I listened to you singing, my hear was trembled, and I
don’t know why was so powerful*!, katanya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
‘*Nicole, I am sure it was a sign that you were sincere in your way to
finding the Truth. And you found it*!
‘*And so I have to do*?’, tanya. ‘*It is very simple*..’, jawabku.
Saya kemudian memanggil dua jama’ah yang sudah mulai datang ke Islamic
Center, terutama para sopir teksi yang memang menjadikan masjid 96th Street
itu sebagai station untuk shalat dan keperluan kamar mandi. Setelah keduanya
hadir di kantor, saya memulai membimbing Nicole dengan linangan airmata:
‘Asy-hadu anlaa ilaah illa Allah. Wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullah’,
diikuti takbir kedua saksi.
Sebelum meninggalkan Islamic Center Nicole sempat belajar wudhu dan shalat
Dhua. Tapi dia berjanji untuk kemudian shalat Dhuhur di kantornya, yang
menurutnya cukup private.
New York, 20 Januari 2010


Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.
Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.
Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
– Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
– Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
– Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.
– Pelajaran yang sangat menyedihkan.

Sumber : dikutip dari milis cetifasi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright 2010 The Brave Syuhada